Pagi tadi aku terbangun dengan sangat tidak nyenyak. Sudah beberapa hari ini memang aku kembali susah tidur. tentu itu membuat ku susah bangun juga.
Jam di laptopku menunjukkan pukul 3 pagi tadi. Mataku belum terpejam sedikitpun. Aku hanya memandangi kamarku yang sedang berantakan ini. Entah jam berapa akhirnya aku bisa tertidur.Dalam tidur aku sebenarnya gelisah kalau nanti aku tidak bisa bangun pagi. Aku punya janji jam 9 pagi tadi untuk mengantarnya ke dokter gigi. ZZZzzzzZZzzz...... mungkin seperti itu aku tidur.
Benar saja jam 8.30 aku baru bangun. Mimpi yang tidak jelas alurnya aku tinggalkan. Benar-benar panik seperti ada tsunami melanda kamarku. Aku harus segera berangkat. Perjalanan dari kosan ke rumahnya sekitar 45menit tanpa macet, kalau macet tentu lebih dari itu.
Tepat jam 9 aku selesai mandi dan langsung berangkat ke rumah dia. Di jalan aku was-was kalau dia marah lagi. Dia memang sering marah kalau aku terlambat datang atau terlambat menjemputnya. Tapi kali ini aku deg-degan sambil curiga kenapa dia tidak membangunkanku tadi pagi. Padahal semalam aku sudah ngomong untuk dibangunkan lewat handphone flexy ku.
Masa bodo dia sudah menghubungiku atau belum, aku berfikir kalau dia ngetes apakah aku serius ingin mengantarnya ke dokter gigi. Aku sudah di metromini 510 arah kampung rambutan. Nantinya aku turun di pasar rebo dan melanjutkan ke bulak rantai dengan angkot kecil 06 arah cililitan.
Di 510 yang tengah masuk ke jalan tol dia pun menelponku, "udah jalan?". Pertanyaan yang ku khawatirkan tapi rasanya aneh dengan nadanya yang aneh. Biasanya dia mengatakan "udah jalan?" dengan nada bertanya, tapi kali ini "udah jalan?"-nya serasa 'kok kamu sudah jalan'. Aku jawab kalau aku sudah di tol dan sebentar lagi sampai di rumah. Benar saja dia bilang "aku baru bangun, maaf".
Andai saja dia tahu kalau aku buru-buru berangkat karena tidak ingin terlambat lebih lama, bahkan pagi tadi aku belum sempat sarapan. Tiga bungkus roti seharga seribu'an yang ku beli sebelum berangkat tadi rasanya menjadi pahit.
Aku sampai di bulak rantai, itu artinya selangkah lagi aku sampai di rumahnya. Sebuah pesan singkat masuk ke hape ku, "mas, mama meminta aku mengantar beliau ke tempat pembayaran pajak". Dalam hati ku bilang F**K OF Pajak. "Iya", ku bilang, "antar mama dulu baru nanti ketemu aku".
Perutku sudah tidak jelas lagi nasibnya. Keroncongan, Jazz, Campursari, Dangdut, Koplo, Rock, Metal, dkk yang lain ikut mewarnainya. Mie Ayam Pak Min di depan masjid melambai-lambai. Aku duduk didepan warung itu beberapa saat dan kemudian aku masuk. Semangkuk mie ayam yang rasanya hambar sudah ku habiskan. Dia masih di jalan.
Jam di hape muternya lambat banget, pinggangku pun hampir putus, sms ku juga ga ada yang dia balas. Tiga jam aku menunggunya. Jam setengah satu aku baru bertemu dengannya.
0 comments:
Post a Comment